News Update :

Terpopuler

review http://jakarta-inside.blogspot.com on alexa.com
Showing posts with label VIVAnews. Show all posts
Showing posts with label VIVAnews. Show all posts

Ironis, Gereja Bersejarah Jakarta Utara Dipugar

Friday, March 2, 2012 4:39 PM


Pemugaran Gereja Tugu di Jalan Raya Tugu, Kelurahan Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, dinilai justru merusak keaslian bentuk bangunan. Padahal gereja ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya.

"Ketika merenovasi bangunan, mereka (kontraktor proyek) sudah diberitahu, tapi tetap saja membangun sesuai keinginannya," kata Tatik, seorang warga keturunan Portugis yang juga salah satu jemaat Gereja Tugu saat ditemui di Gereja Tugu kemarin.  

Karena kecewa berat terhadap pemugaran yang telah menelan biaya Rp500 juta itu, Tatik yang mewakili warga keturunan Portugis, menuntut pemerintah Jakarta segera mengembalikan bentuk bangunan itu seperti semula.

Menurutnya, perbedaan bangunan baru dengan yang lama sangat mencolok.

Bangunan yang diubah bentuk aslinya oleh kontraktor ialah kanopi, kisi-kisi lubang angin, dan pembongkaran tembok untuk pemasangan AC. “Kami tak perlu pakai AC, yang penting keasliannya harus dijaga.”

Perubahan desain dinilai melanggar Peraturan Daerah Nomor 9  tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan. Dalam Perda itu disebutkan kegiatan berupa memugar atau mengubah bentuk/warna, mengganti elemen (bagian) dari bangunan merupakan cagar budaya serta lingkungan pekerjaan harus dengan izin gubernur, pemerintah, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta.

Kepala Sub Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Utara, Nanik Ophir Yani, mengakui bangunan cagar budaya itu memang sudah seharusnya dilindungi.

Sayangnya, ia mengaku tak berwenang untuk menegur tindakan pemugaran yang telah mengubah bentuk aslinya itu. Sebab kewenangannya ada di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. (Sumber: VIVAnews)

At Taibin: Masjid yang Menjadi Oase di Tengah Jakarta

3:25 PM


Kota Jakarta dikenal sebagai kota industri dengan segala aktivitas penduduknya yang sangat padat.  Suasana serupa kita terlihat di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Daerah tersebut dipenuhi sejumlah apartemen dan perkantoran. Lalu lalang pengguna jalan, penduduk, dan para pekerja, menjadi pemandangan sehari-hari.

Di tengah keramaian tersebut, hadir sebuah tempat sederhana, sebuah peninggalan budaya Islam Nusantara bernama Masjid At Taibin. At Taibin merupakan salah satu masjid tua di Jakarta. Secara harfiah, At Taibin berarti 'Tempat Orang Bertaubat.'

At Taibin mampu menjadi penyejuk di tengah padat dan penatnya Kota Jakarta. Setiap hari, khususnya siang hari yang terik, puluhan umat Islam berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk menunaikan ibadah salat di sana. “Mereka yang kerap ke sini adalah sopir taksi, sopir angkutan umum, karyawan kantor, pegawai negeri, dan masyarakat umum,” kata Ayub Abdullah, Pembina Yayasan At Taibin, Kamis 4 Agustus 2011.

Saat Ramadan, jumlah pengunjung At Taibin bertambah. Pengurus masjid pun membuat sejumlah program melengkapi kebutuhan spiritualitas jamaah, seperti ceramah agama seusai salat fardu, dan kultum menjelang salat tarawih dan salat subuh. Selain itu, selama bulan Ramadan, mereka menyiapkan acara buka puasa bersama, menggelar bakti sosial menjelang Hari Raya Idul Fitri, dan santunan kepada anak-anak yatim.

Berdasarkan penuturan Ayub, Masjid At Taibin didirikan oleh sejumlah pedagang sayur di Pasar Senen dan penduduk setempat sekitar 1815. Awalnya, masjid ini bernama Masjid Kampung Besar. Namun tahun 1950-an namanya berganti menjadi Masjid Imroni'ah. Baru pada tahun 1970-an, namanya diganti lagi menjadi At Taibin. Pada tahun 1980-an, atau sekitar dua abad setelah berdirinya, masjid ini berhasil diselamatkan dari pembongkaran Segi Tiga Senen.

“Ketika itu kami melakukan perlawanan dan penolakan. Alhamdulillah, Gubernur saat itu secara diplomatis mendukung langkah kami. Dia mengatakan boleh dibongkar asal disetujui oleh alim ulama setempat,” kisah Ayub.

Ia bercerita, At Taibin dahulu menjadi pusat perjuangan pejuang kemerdekaan melawan Belanda. Para ulama mengkoordinir masyarakat dan penduduk setempat melalui dakwah dan kegiatan-kegiatan keagamaan di masjid tersebut. Hal itu, kata Ayub, sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah semasa hidup. Di masanya, Rasulullah menjadikan masjid sebagai pusat berkumpul dan berdakwah.

Bangunan Masjid At Taibin tidak terlalu besar. Luasnya sekitar 15 x 25 m atau 1150 meter persegi, masjid ini dapat menampung puluhan orang. Masjid ini disangga oleh empat tiang berjejer lurus terbuat dari kayu jati hitam dengan hiasan kaligrafi di luarnya. Menurut Ayub, hiasan kaligrafi itu adalah tambahan baru, sedangkan kayu jati di dalamnya masih asli sejak masjid pertama didirikan.

Selain tempat beribadah, Masjid At Taibin juga memiliki sejumlah fasilitas sosial lain seperti lembaga pendidikan sederhana untuk anak-anak, baitul mal, dan koperasi simpan pinjam. “Masjid ini adalah tempat berteduh dan beribadah kepada Allah. Bagi kami, masjid ini memiliki arti penting dalam berdakwah dan mengamalkan ajaran Islam,” ujar Ayub. (Sumber: Vivanews).

Sponsor

 

© Copyright Jakarta Inside 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.