News Update :

Terpopuler

review http://jakarta-inside.blogspot.com on alexa.com
Showing posts with label JakartaIns. Show all posts
Showing posts with label JakartaIns. Show all posts

Hian Thian Siang Tee: Klenteng Berumur 200 Tahun di Palmerah, Jakarta

Friday, March 2, 2012 3:48 PM


Setiap hari pulang dan pergi melewati Klenteng Thian Siang Tee setiap hari, membuat JakartaIns terbetik niat publikasikan tentang klenteng bersejarah tersebut. Beruntung, Vivanews, salah satu portal berita kenamaan telah lebih dulu menurunkan liputan yang berhubungan dengan rumah ibadah  tersebut. Berikut laporannya:
Harum wangi dupa menyeruak ke seluruh bangunan Klenteng Hian Thian Siang Tee yang terletak di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat. Meski berada persis di belakang Pasar Palmerah yang setiap hari ramai, tapi suasana tempat ibadah ini tetap tenang dan khusyu.


Seperti dekorasi bangunan klenteng pada umumnya, dinding Hian Thian Siang Tee didominasi warna merah dengan relief naga melingkar di setiap tiang depannya. Hiasan aksara kanji terhias pada pintu masuk utama untuk menyambut pendoa yang datang.


Sejumlah lukisan khas dari China melengkapi halaman klenteng sebagai pelambang kerukunan keluarga antara kakek, anak dan cucu. Sedangkan di dalam ruang utama, diletakkan puluhan patung dan dewa utama, Hian Thian Siang Tee.


Ketua Pengurus Klenteng, Oey Seng Lie menjelaskan, tempat ini sudah berada persis di belakang Pasar Palmerah sejak pertengahan tahun 1800-an.


"Jadi usianya kira-kira sudah 200 tahun" ujar Oey kepada VIVAnews.com, Rabu 2 Februari 2011. Selama 200 tahun, kelenteng seluas 830 meter ini sudah mengalami sejumlah perbaikan.


Dari cerita turun-temurun, Klenteng Hian Thian Siang Tee awalnya dibangun seorang tuan tanah turunan Tionghoa. Seiring dengan pergantian tahun, pengelolaan klenteng juga berganti.


Kenang Oey, pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, klenteng ini kerap digunakan masyarakat sekitar untuk berlindung dari kejaran tentara penjajah. "Entah mengapa, waktu itu penjajah sungkan masuk dan berbuat kerusakan di klenteng ini" ujar Oey. Karenanya, klenteng ini dikenal sebagai tempat berlindung paling aman di kawasan Palmerah kala itu.


Banyak yang meyakini kalau klenteng dinaungi dewa pengobatan, Hian Thian Siang Tee yang merupakan dewa utama klenteng yang menjadi nama tempat ini. Karena itu, tidak heran jika orang yang sembahyang di klenteng ini kebanyakan memiliki harapan untuk meminta kesehatan dan keselamatan.


Sementara itu, ciri khas lain dari tempat ini terdapat ruangan khusus berisi dua undakan layaknya makam. Ruangan tersebut berada di sisi kiri ruang utama kelenteng.  "Ini bukan makam, tapi ada sejumput tanah yang diambil dari makam Surya Kencana yang konon dikenal sebagai ahli agama di Jawa Barat. Lalu kami buatkan persemayamannya di sini untuk kami doakan" ujar Oey.


"Kami juga mempersilakan saja pengunjung yang hendak berdoa di ruangan ini, terserah ritual ibadat seperti apa yang dilakukan" ujar Oey. Terkadang, ada beberapa masyarakat yang melakukan tirakat dan berdoa di ruangan ini.


Di klenteng ini, Oey menceritakan kalau setiap tahun, ada tiga perayaan besar yang digelar. Yaitu, perayaan tahun baru Imlek di bulan pertama, hari ulang tahun dewa utama di bulan ketiga dan ritual sembahyang arwah di bulan ketujuh. 


"Untuk pembagian sembako bagi masyarakat sekitar biasanya kami lakukan pas ritual sembahyang arwah" tandas Oey. 


Sepanjang pekan ini, pengurus klenteng sudah melaksanakan ritual pembersihan sarana peribadatan, seperti meja persembahan dan patung-patung dewa yang terdapat di ruang utama klenteng. Sebanyak 150 lampion sudah menghiasi langit-langit teras seluas 830 meter persegi.


"Lampion-lampion itu persembahan dari para jemaat yang menaruh harapan di tahun baru" ujar Oey.


Selain hiasan lampion, puluhan lilin imlek besar untuk prosesi peribadatan juga sudah tersedia di halaman, bersama dengan sajian untuk para dewa.


Puncak perayaan Imlek di kelenteng berlantai tiga ini biasanya dilaksanakan pada jam 00 malam tadi, tepat pergantian tahun penanggalan Tionghoa yang jatuh pada tanggal 3 Februari 2011 penanggalan nasional. (Gbr: Koprol)

The Face of Jakarta Over the Past 12 Years in A Book

11:50 AM


Compiling events that occurred during the last 12 years, Data Fakta Jakarta (Factual Data about Jakarta) helps anyone who is interested, to get to know more about Jakarta and understand the city better.


The 384-page book, written by 17 contributors, reflects a participatory approach and, thus, it is subjective. 

“[The book] upholds an open subjectivity and communicative style,” the introduction of the book reads. 

The book serves to record collective memory, which could become a reliable source for Jakarta residents wanting to improve and conserve the city. 

“Those who want to prevent this city from deteriorating, they must first equip themselves with accurate information about the city, so that they can know what to do,” Marco Kusumawijaya, director of the Rujak Center for Urban Studies (RCUS), the book’s publisher, said at the book’s launch on Wednesday. 

Data Fakta Jakarta is divided into chapters that inform readers about major events in the city from 1998 to 2010, exploring some of the city’s problems and the efforts taken to try to tackle them.

The first chapter of the book is dedicated to the bloody May 1998 tragedy that marked the beginning of the so-called reformasi (reformation) era. 

“We decided to begin the book with 1998, as that year was the turning point for everything. We wanted to look at the changes in our Jakarta since then, although nothing much has changed,” Marco said. 

The book also explores one of the major problems in Jakarta, transportation, from many perspectives, including the fares, the internal condition of local transportation companies and the pollution different forms of transportation produce. 

And as the information is delivered in simple graphics, it is easy for readers to understand the issues. 

Readers will also find of interest the section that allows them to flash back a little with a brief history on all the kinds of public transportation used in the city over the years, starting with the tram; oplet (small bus); helicak (auto pedicab); kancil (four-wheeled mini taxi); to the ojek (motorcycle taxi). 

Data Fakta Jakarta also talks about another of the city’s major problems — flooding. 

The chapter about the floods in Jakarta explains the roots of the problem along with the measures that have been taken by successive administrations to try and solve it. 

Two of Jakarta’s worst floods are detailed, and include the various approaches that Jakarta residents took when facing the disasters. 

It is not only the city’s seemingly insoluble problems that are highlighted in the book; there are also stories about the trends that have been started within civil society.

During the past 12 years, the city has witnessed the emergence of public spaces dedicated to holding many kinds of art exhibitions and festivals. The book says that the Jakarta International Film Festival and the birth of the Ruang Rupa art community are events that indicate the fast development of art in Jakarta. 

Other trends include the burgeoning number of internet cafés; the latest habit of people hanging out in convenience stores and malls; the development of independent cities; and the boom of social media that is supported by easy access to the Internet.

The publisher has printed 1,000 initial copies of the book, which are available at no cost, from: info@rujak.org.

Sponsor

 

© Copyright Jakarta Inside 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.